Segmen peranti lunak sangat berpotensi menjadi lokomotif industri teknologi informasi (TI) nasional. Tak pelak, kemajuan industri ini tergantung dari kapasitas komunitas pengembang, griya peranti lunak (software house atau Independent Software Vendor) dan penyedia teknologi yang tergabung dalam sebuah ekosistem.
Microsoft Indonesia menyadari pentingnya membangun ekosistem yang sehat bagi seluruh lapisan penghuninya. Untuk itu, kami mengerti upaya ini perlu dilakukan dengan sentuhan lokal, memperhatikan ciri khas setiap penghuni dalam ekosistem. Tak ada ekosistem yang sama sehingga pendekatannya pun berbeda.
Ekosistem di Indonesia masih mencari bentuk, terbagi atas pengembang yang terkelola dan terdaftar secara resmi seperti ISV (Independent Software Vendor), kelompok pengembang lepas dan atas nama individual. Kendati berbeda, mereka memiliki tujuan yang sama, yakni menyediakan jasa dan menciptakan produk peranti lunak.
Masalahnya, program kemitraan resmi dari para prinsipal bersifat eksklusif, belum benar-benar merangkul seluruh lapisan pengembang. Terciptalah kesenjangan, hanya mereka yang mampu secara teknis dan finansial yang bisa mengikuti program tersebut. Dari kenyataan itulah, Microsoft menghadirkan terobosan baru untuk memberdayakan komunitas pengembang berskala luas melalui program yang kami namakan Bina-ISV.